Wednesday, August 24, 2016

Daftar Pustaka dan Lampiran Skripsi/Tugas Akhir

Penulisan Daftar Pustaka

Daftar Pustaka memuat identitas semua buku, jurnal, laporan penelitian, referensi dari internet, dan sumber-sumber yang diacu, dalam penulisan skripsi/tugas akhir, dan disebut di dalam bagian isi. Sumber yang tidak disebut dalam bagian isi tidak boleh dicantumkan dalam daftar pustaka. Sebaliknya, semua sumber yang disebut di dalam bagian isi, harus pula dicantumkan dalam daftar pustaka. Daftar Pustaka disusun secara alfabetis atau mengitukuti format tertentu pada tiap Institusi.

Mengapa berbeda tiap Institusi?

Karena sampai saat ini belum ada format khusus daftar pustaka yang harus dan resmi diikuti di Negara kita, jadi acuannya hanya berdasarkan tiap Institusi penyelenggara pendidikan.

Banyak pendapat terkait sejarah dimulainya penulisan daftar pustaka. Namun ada beberapa sumber yang didapatkan dan terpercaya yang biasa dan bisa digunakan untuk jadi acuan penulisannnya. Sebaiknya untuk penulisan daftar pustaka yang merupakan rujukan terpercaya, silahkan ikuti contoh dari Vancouver dan Harvard

Istilah atau sebutan lain dari daftar pustaka adalah sumber pustaka,rujukan, referensi, kutipan, catatan kaki, pranala dan istilah serupa yang membutuhkan daftar pustaka atau biasa disebut sinonim atau padanan kata. Tergantung selera penulis karena biasanya bentuk atau jenis tulisan itu beragam.

Lampiran Skripsi/Tugas Akhir

Lampiran memuat semua dokumen atau bahan penunjang yang digunakan atau dihasilkan dalam penelitian skripsi/tugas akhir, tetapi dianggap terlalu mengganggu jika dimasukkan dalam bagian isi. Lampiran dapat berupa surat izin penelitian, instrumen penelitian, rumus-rumus, dan penghitungan statistik yang dipakai, prosedur penghitungan, hasil ujicoba instrumen dan sejenisnya. Untuk penelitian kualitatif, catatan lapangan (field notes) juga diletakkan dalam lampiran. Lampiran diberikan nomor urut, dan nomor halamannya merupakan kelanjutan dari nomor halaman bagian inti.

Demikianlah pembahasan mengenai Daftar Pustaka dan Lampiran Skripsi/Tugas Akhir pada kesempatan kali ini. Bila ada saran, kritik, atau pertanyaan silahkan memberikannya di kotak komentar di bawah postingan Situs Edukasi ini. Terima kasih atas kunjungannya dan salam blogger!

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

Tuesday, August 23, 2016

Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Berdasarkan Jenis Penelitiannya

Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir  - Skripsi/Tugas Akhir merupakan salah satu karya ilmiah, namun berbeda dengan karya ilmiah lainnya yang hanya menyusun tulisan sedemikian rupa sampai karya atau isi tulisannya terangkum dalam satu pokok bahasan tertentu. Skripsi/Tugas Akhir bertindak layaknya jantung pada Mahasiswa semester akhir yang ingin menyelesaikan  studi dan meraih gelar sebagai Diploma atau Sarjana di bidang keahlian masing-masing dalam sebuah Perguruan Tinggi.

Skripsi/Tugas Akhir telah bertindak sebagai bagian inti dalam mendapatkan gelar yang dicitakan,  maka dipandang perlu untuk memberikan Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir agar dapat membantu Anda dalam penyusunan dengan membaginya ke dalam beberapa kategori penelitian yang dilaksanakan.

 Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir
Adapun isi bagian inti Skripsi/Tugas akhir disajikan dalam bentuk bab-bab, subbab, atau tingkat hirarki judul yang lebih rinci, dengan menganut sistematika tertentu, yang diatur dalam Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir ini. 

Perlu diperhatikan bahwa ada berbagai pendekatan penelitian yang digunakan dalam menyusunan Skripsi/Tugas akhir. Pendekatan penelitian tersebut secara garis besar sebagai berikut:

Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Untuk Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh, dan sesuai dengan konteks permasalahannya dipecahkan melalui penumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. 

Penelitian kualitatif pada umumnya bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Pemanfaatan teori-teori yang relevan sebagai inti analisis data kualitatif dapat menghasilkan deskripsi berbobot, yang maknanya mendalam. Proses dan makna dari sudut pandang subjek lebih ditinjolkan dalam penelitian ini.

Penelitian kualitatif memiliki fokus yang jelas. Fokus dapat berupa masalah, objek evaluasi, atau pilihan kebijakan, yang tercermin dalam laporan penelitian yang memiliki struktur dan bentuk yang koheren dengan maksud penelitian. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri ilmiah, dengan sistematika penulisan skripsi/tugas akhir sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB  II KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
B. Kerangka Konseptual
C. Pertanyaan Penelitian
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Subjek dan Objek Penelitian
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
E. Keabsahan Data
F. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi dan Analisis Data
B. Pembahasan
C. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran-Saran

Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Untuk Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang khusus dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian tindakan kelas bukan penelitian eksperimen, bukan penelitian eksperimen semu, dan bukan penelitian pengembangan. 

Oleh karena itu, masalahnya ialah “bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan metode, strategi, atau cara tertentu”. Rumusan masalah itu dijawab dengan bukti-bukti, proses dan hasil tindakan yang dilakukan. Sistematika penulisan skripsi/tugas akhir untuk penelitian tindakan kelas sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Hasil Penelitian
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir
D. Hipotesis Tindakan
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
C. Subjek Penelitian
D. Jenis Tindakan
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
F. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Prosedur dan Hasil Penelitian
B. Pembahasan
C. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran-Saran

Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Untuk Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kuantitatif (experimen, expost facto, dan sebagainya)

Laporan penelitian kuantitatif yang ditulis dalam bentuk skripsi/tugas akhir, terutama ditujukan untuk masyarakat akademik. Laporan berupa apa yang diteliti secara lengkap, alasan hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif. 

Format laporan cenderung baku mengikuti ketentuan perguruan tinggi atau kelompok masyarakat akademik. Berdasarkan pemikiran di atas, isi bagian tesis dan disertasi sebagai laporan hasil penelitian kuantitatif disajikan dalam sistematika sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir
D. Hipotesis Penelitian
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian atau Desain Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Populasi dan Sampel Penelitian
D. Variabel Penelitian
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Pengembangan Instrumen
2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
F. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
B. Uji Persyaratan Analisis
C. Analisis Data
D. Pembahasan
E. Keterbatasan Penelitian

BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran-Saran

Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan adanya dua aspek penting yakni penelitian dan pengembangan suatu model, produk atau perangkat tertentu. Sistematika penulisan penelitian pengembangan disajikan seperti berikut.

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Pengembangan
E. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
F. Manfaat Pengembangan
G. Asumsi dan keterbatasan pengembangan
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Berpikir
D. Pertanyaan Penelitian
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Model Pengembangan
B. Prosedur Pengembangan
C. Ujicoba Produk
1. Desain Ujicoba
2. Subjek Ujicoba
3. Jenis data
4. Instrumen Pengumpulan Data
5. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Data Ujicoba
B. Analisis data
C. Revisi Produk
D. Kajian Produk Akhir
E. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan Tentang Produk
B. Saran Pemanfaatan, Desiminasi, dan Pengembangan Lebih Lanjut

Penelitian Rekayasa/Desain/Rancang Bangun

Penelitian ini berisi perancangan alat yang biasanya dilakukan sebagai tugas akhir mahasiswa program Diploma Tiga (D3), tetapi tidak  menutup kemungkinan dilakukan untuk skripsi mahasiswa Strata Satu (S1) dengan kajian analisis yang lebih mendalam. Sistematika penulisan bagian inti laporan hasil penelitian rekayasa ini dituliskan sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Rancang Bangun
E. Spesifikasi Produk yang Dirancang
F. Manfaat Produk
G. Keterbatasan Rancang bangun
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir atau
D. Model Peralatan
E. Pertanyaan Perancangan
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Desain Perancangan
B. Gambar Disain Produk
C. Alat dan Bahan yang Digunakan
D. Prosedur Rancang bangun atau Langkah Kerja
E. Ujicoba Produk
F. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Produk yang dihasilkan
B. Hasil Ujicoba
C. Revisi Produk
D. Kajian Produk Akhir
E. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan Tentang Produk
B. Saran Pemanfaatan, Desiminasi, dan Pengembangan Lebih Lanjut

Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Untuk Penelitian Metode Campuran Kualitatif dan Kuantitatif

Pada penelitian dengan metode campuran yaitu kualitatif dan kuantitatif, harus dijelaskan kedudukan penggunaan setiap metode, apakah metode kuantitatif digunakan untuk memperoleh hasil yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan penelitian lebih mendalam secara kualitatif, ataukah metode kualitatif digunakan untuk memperoleh landasan yang kuat dalam penelitian secara kuantitatif. 

Laporan penelitian skripsi/tugas akhir dengan metode campuran kualitatif dan kuantitatif harus memiliki fokus yang jelas, dan memenuhi kaidah penggunaan metode kualitatif dan kuantitatif. Adapun sistematika penulisan skripsi/tugas akhir ini  sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir
D. Hipotesis Penelitian dan Pertanyaan Penelitian
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian atau Desain Penelitian
B. Pendekatan Penelitian
C. Lokasi Penelitian
D. Populasi dan Sampel Penelitian
E. Variabel Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data
G. Instrumen Penelitian
H. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
I. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
B. Analisis Data
C. Pembahasan atau Diskusi Temuan dan Hasil Analisis Data
D. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran-Saran

Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir Untuk Jenis Analisis Dokumen

Skripsi/tugas akhir hasil penelitian analisis dokumen merupakan penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil analisis dokumen atau analisis pustaka dan hasil olah pikir peneliti mengenai suatu masalah atau topik kajian. Skripsi jenis ini berisi satu topik yang memuat beberapa gagasan atau proporsi yang berkaitan yang harus didukung dengan data yang diperoleh dari sumber pustaka.

Sumber bahan kajian dapat berupa jurnal penelitian, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, internet atau terbitab-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. 

Dokumen atau bahan pustaka harus dikaji secara kritis dan mendalam dalam rangka mendukung gagasan atau proporsi untuk menghasilkan simpulan dan saran. Bagian inti skripsi/tgas akhir analisis kajian dokumen disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB  I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Hasil Penelitian
F. Definisi Istilah (bila perlu)
BAB  II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
B. Kajian Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir
D. Hipotesis Tindakan
BAB  III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Subjek Penelitian dan Objek
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
E. Teknik Analisis Data
BAB  IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi dan Analisis data
B. Pembahasan
C. Keterbatasan Penelitian
BAB  V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran

Demikianlah Panduan Penulisan Skripsi/Tugas Akhir yang bisa kami sampaikan kepada Anda. Lebih kurangnya mohon dimaafkan karena keterbatasan Situs Edukasi kami, namun moga dapat bermanfaat buat Anda. Terima kasih atas kunjungannya, dan jangan lupa share dan like artikel ini ya!

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

Friday, August 19, 2016

Cara Cek Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan Mekanisme Penerbitannya

Pengertian Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) 


Nomor Induk Siswa Nasional adalah, kode pengenal identitas siswa yang bersifat unik, standar dan berlaku sepanjang masa yang dapat membedakan satu siswa dengan siswa lainnya di seluruh sekolah Indonesia dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri; Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) diberikan kepada setiap peserta didik yang bersekolah di satuan pendidikan yang memiliki NPSN dan terdaftar di Referensi Kemendikbud. 
Sistem pengelolaan NISN secara nasional oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK) Kemendikbud yang merupakan bagian dari program Dapodik (Data Pokok Pendidikan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hasil dari proses pemberian kode identifikasi oleh PDSPK ditampilkan secara terbuka dalam batasan tertentu melalui situs NISN (http://nisn.data.kemdikbud.go.id./).

Tujuan dan Manfaat Sistem Informasi NISN


1. Mengidentifikasi setiap individu siswa (peserta didik) di seluruh sekolah se-Indonesia secara standar, konsisten dan berkesinambungan.
2. Sebagai pusat layanan sistem pengelolaan nomor induk siswa secara online bagi Unit unit Kerja di Kemendikbud, Dinas Pendidikan Daerah hingga Sekolah yang bersifat standar, terpadu dan akuntabel berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi terkini.
3. Sebagai sistem pendukung program Dapodik dalam pengembangan dan penerapan program-program perencanaan pendidikan, statistik pendidikan dan program pendidikan lainnya baik di tingkat pusat, propinsi, kota, kabupaten hingga sekolah, seperti: Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Ujian Nasional, PIP, SNMPTN.

Aturan dan Kebijakan


Pusat Data dan Statistik Pendidikan Dan Kebudayaan dalam melaksanakan tugas pengelolaan data pendidikan berdasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan



1. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No.11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kelola Kerja Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Pasal 806
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 805, Bidang Data Ketenagaan, Peserta Didik, dan Warisan Budaya Benda Pusat Data Dan Statistik Dan Kebudayaan menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan kebijakan teknis pengelolaan data ketenagaan, peserta didik, dan warisan budaya benda;
b. pengumpulan dan pengolahan data ketenagaan, peserta didik, dan warisan budaya benda;
c. pelaksanaan validasi dan integrasi data ketenagaan, peserta didik, dan warisan budaya benda; dan
d. penyusunan bahan koordinasi dan fasilitasi pengelolaan data ketenagaan, peserta didik, dan warisan budaya benda.



2. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No. 79 Tahun 2015 tentang Dapodik Pasal 11
a. PDSPK menerbitkan dan mengelola data referensi pendidikan untuk menjamin integrasi data pendidikan;
b. Data referensi merupakan data yang terverifikasi dan tervalidasi keabsahannya untuk memenuhi kualifikasi sebagai acuan yang terdiri atas referensi data wilayah, referensi data operasional dan referensi nomor identitas;
c. Kualifikasi sebagai acuan wajib memenuhi persyaratan identitas tunggal;
d. Referensi nomor identitas meliputi:
   1) Nomor Pokok Satuan Pendidikan Nasional yang merupakan pengkodean referensi satuan pendidikan;
   2) Nomor Induk Siswa Nasional yang merupakan pengkodean referensi peserta didik;
  3) Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang merupakan pengkodean referensi pendidik dan         tenaga kependidikan; dan
4) Nomor Pokok Yayasan Pendidikan yang merupakan pengkodean referensi yayasan yang memiliki satuan pendidikan.
e. Penerbitan nomor identitas ditetapkan oleh PDSPK


Berikut ini mekanisme penerbitan NISN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:

mekanisme penerbitan NISN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Khusus untuk Pendidikan Agama Islam dan Bimbingan Masyarakat Kristen Dan Katolik, melalui Kementerian Agama, berikut mekanisme penerbitan NISN nya:
mekanisme penerbitan NISN di Kementerian

mekanisme penerbitan NISN

Catatan:
Seluruh proses pengajuan NISN dan pengiriman data siswa menggunakan email dan harus melampirkan file formulir A1 dalam format microsoft office excel dan PDF. Jangan lupa diberi tanda tangan oleh kepala sekolah dan stempel sekolah yang mengajukan untuk formulir A1 format PDF tadi. Setelah itu, file hasil penomoran NISN oleh PDSPK dalam format excel akan dikirim ke BiroHumas Kementerian Agama untuk diteruskan kembali ke Sekolah. Berikut ini email masing-masing tempat pengajuan yang dimaksud:
Email Bimas Kemenag Jenjang Pendidikan Dasar (Dikdas) yaitu dikdasdbk@gmail.com
Email Bimas Kemenag Jenjang Pendidikan Menengah (Dikmen) yaitu  dikmendbk@gmail.com
Email PDSPK yaitu pdsp@kemendikbud.go.id

Bagi Lulusan SMA/SMK/MA yang Belum Memiliki NISN, berikut mekanismenya:

Lulusan SMA/SMK/MA yang Belum Memiliki NISN

Catatan:
Seluruh proses pengajuan NISN dan pengiriman data siswa menggunakan email dan harus melampirkan file formulir A1 dalam format microsoft office excel dan PDF serta scan ijasah terakhir (SMA/SMK/MA). Jangan lupa diberi tanda tangan oleh kepala sekolah dan stempel sekolah yang mengajukan untuk formulir A1 format PDF tadi. Setelah itu, file hasil penomoran NISN oleh PDSPK dalam format excel akan dikirim ke Dinas Pendidikan, Kementerian Agama Kab/Kota untuk diteruskan kembali ke Sekolah. Dinas Pendidikan Kab/Kota adalah operator Dapodik/KK Datadik tingkat Kab/Kota masing-masing sedangkan Kemenag adalah operator pendataan di Kantor  Kemenag Kab/Kota masing-masing. Berikut ini email tempat pengajuan yang dimaksud: Email PDSPK yaitu pdsp@kemendikbud.go.id

Bagi yang ingin mengecek langsung Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), silahkan klik Cek Data Siswa

Sumber: nisn.data.kemdikbud.go.id

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

Wednesday, August 17, 2016

Begini Prosedur Pengajuan NUPTK Bagi Tenaga Pendidik Agar Lolos Verifikasi


Begini Prosedur Pengajuan NUPTK Bagi Tenaga Pendidik Agar Lolos Verifikasi - Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) merupakan Nomor Induk bagi seorang Guru atau Tenaga Kependidikan (GTK). NUPTK diberikan kepada seluruh GTK baik PNS maupun Non-PNS yang memenuhi persyaratan dan ketentuan sesuai dengan surat Direktur Jenderal GTK sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan.


NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat unik dan tetap. NUPTK yang dimiliki seorang GTK tidak akan berubah meskipun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar, perubahan riwayat status kepegawaian dan atau terjadi perubahan data lainnya.



GTK dapat memiliki NUPTK dengan cara memastikan data yang bersangkutan telah di-input dengan lengkap, benar dan valid dalam aplikasi Dapodikdasmen atau dapodikpauddikmas sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Setelah melalui proses verifikasi dan validasi (verval) GTK oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, bagi GTK yang memang belum memiliki NUPTK akan diusulkan ke sekolah induk GTK secara sistem untuk dilengkapi dokumen-dokumen yang sesuai persyaratan untuk dikirim ke Dinas Pendidikan Kab/Kota setempat melalui sistem Aplikasi Verval GTK untuk di verifikasi, setelah lolos verifikasi oleh Disdik selanjutnya secara sistem akan diverifikasi oleh Ditjen GTK dan bila selanjutnya dinyatakan lulus verifikasi maka PDSPK akan menerbitkan NUPTK bagi GTK tersebut.

Mekanisme NUPTK

Dalam proses penerbitan atau penonaktifan NUPTK para GTK dapat mengetahui dan memantau progres dari proses penerbitan atau penonaktifan NUPTK yang dilakukan disetiap simpul operator (Sekolah, Disdik, Ditjen GTK, dan PDSPK) maka dapat ditelusuri berdasarkan mekanisme yang sudah disepakati baik di lingkungan Kemendikbud, Dinas Pendidikan, maupun Sekolah. Berikut mekanisme penerbitan atau penonaktifan NUPTK:

Mekanisme NUPTK

Mekanisme Penerbitan dan Penonaktifan NUPTK

Syarat dan Ketentuan NUPTK

Untuk memperoleh NUPTK bagi guru dan tenaga kependidikan baik sekolah formal maupun non-formal, maka pastikan data GTK yang di input oleh operator sekolah harus lengkap, benar dan valid agar proses penerbitan NUPTK bagi GTK yang memenuhi persyaratan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh Dirjen GTK dapat dilakukan dengan baik dan cepat. Berikut Syarat dan Ketentuan Penerbitan dan Penonaktifan NUPTK :

syarat pengajuan NUPTK guru honorer


Syarat Pengajuan NUPTK Guru Non PNS/GTT dan Guru PNS 2016


Pengajuan NUPTK tahun 2016 ini diperuntukkan khusus bagi para tenaga pendidik yakni guru honorer sekolah, guru tidak tetap (GTT), dan guru tetap yayasan (GTY) yang dapat diakses melalui Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) yang merupakan sistem pendataan pendidikan online untuk pengelolaan data pendidikan nasional yang meliputi satuan pendidikan, peserta didik, Guru dan Tenaga Kependidikan yang dilakukan oleh unit utama (PAUDNI, DIKDAS, DIKMEN, dan sebagainya).

Adapun syarat-syarat pengajuan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) terbaru ini tidak jauh beda dengan syrat tahun sebelumnya. Tenaga Pendidik yang telah berhak mengajukan NUPTK, akan mendapatkan himbauan untuk mengajukan NUPTK di halaman dasbor masing-masing. Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang belum memiliki NUPTK dapat memperoleh NUPTK dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Syarat Tenaga Pendidik dengan Satuan Administrasi Pangkal (Satminkal) di Sekolah Negeri:

1. Usia minimal 18 tahun terhitung dari tanggal lahir dengan TMT sebagai pendidik pertama kali.
2. SK Guru awal terekam sebelum 1 Agustus 2014 (Khusus Guru di Sekolah Negeri)
3. Cetak Portofolio terbaru
4. Photo Copy ijazah pendidikan yang telah legalisir terakhir minimal dengan jenjang pendidikan D4/S1
5. Surat Keputusan (SK) Pengangkatan dari Bupati/Walikota sebagai Guru, atau SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dari Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) sebagai PTK yang masih berlaku (Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan Peraturan pelaksana turunannya)

Syarat Tenaga Pendidik dengan Satuan Administrasi Pangkal (Satminkal) di Sekolah Swasta:

1. Usia minimal 18 tahun terhitung dari tanggal lahir dengan TMT sebagai pendidik pertama kali.
2. SK Guru awal terekam sebelum 1 Agustus 2010 (Khusus Guru di Sekolah Swasta)
3. Cetak Portofolio
4. Copy Akte Pendirian Yayasan
5. Photo Copy ijazah pendidikan yang telah legalisir terakhir minimal dengan jenjang pendidikan D4/S1
6. SK Pengangkatan Guru Tetap Yayasan (GTY) sebagai Guru atau Kepala Sekolah minimal selama 4 (empat) tahun berturut-turut terhitung mulai tanggal terbit SK awal sebelum tanggal 1 Agustus 2010 (pada sekolah yang sama atau berbeda) yang ditandatangani oleh Ketua Yayasan dan tidak berlaku surut (contoh SK tertanggal tahun 2014 menjelaskan masa kerja tahun 2010)

Ketentuan Proses Penerbitan NUPTK Bagi Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan 2016

Persyaratan dan mekanisme penerbitan NUPTK 2016 berdasarkan Surat Dirjen GTK No 14652/B.B2/PR/2015 merupakan landasan hukum untuk menerbitkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Syarat dan ketentuan kriteria dalam proses Penerbitan NUPTK bagi Guru dan tenaga Kependidikan di tahun 2016 adalah sebagai berikut:

1. Guru, Kepala Sekolah (KS) dan Pengawas Sekolah (PS) jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan PLB.
2. PTK pada satuan pendidikan Non Formal ( KB/TPA/SPS, PKBM/TBM. Kursus dan UPT) Guru PNS/CPNS, Pengawas PNS, dan Guru non PNS
3. Pendidikan dan tenaga Kependidikan pada satuan pendidikan Non Formal PNS/CPNS dan non PNS.
4. Berijasah S1/D4 dari LPTK/PTN yang mempunyai Progdi terakreditasi oleh Kopertis.
5. Guru dan tenaga Kependidikan (GTK) yang aktif dalam Dapodikdasmen dan Paud-Dikmas dengan syarat Penerbitan NUPTK sebagai berikut:
  • Belum memiliki NUPTK melalui verval GTK oleh PDSPK
  • Calon penerima NUPTK melengkapi dokumen dengan scan SK CPNS PNS dan Surat Tugas dari Dinas Pendidikan ( untuk yang berstatus PNS),
  • SK Pengangkatan Bupati/Walikota/Gurbernur ( untuk GTT)
  • SK pengangkatan GTY selama 2 tahun dihitung sampai Januari 2016 ( untuk GTY/Guru Swasta).
Demikianlah informasi yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat dan terima kasih aas kunjungannya, Salam EDUKASI !

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

Tuesday, August 16, 2016

Ternyata Begini Karakteristik Kurikulum 2013

kurikulum 2013Ternyata Begini Karakteristik Kurikulum 2013 - Halo rekan guru dan para peserta didik, sebelumnya kita telah membahas sedikit banyaknya tentang kurikulum 2013 yang merupakan isi dari artikel rasional pengembangan kurikulum 2013. Pada kesempatan kali ini, situs edukasi kami akan lebih spesifik membahas seputar kurikulum yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat dikalangan rekan guru. Bagaimana tidak, bulan juni 2016 kemarin masih sempat diadakan dialog pendidikan untuk membahas tentang sosialisasi implementasi kurikulum.

Hal tersebut terjadi karena adanya revisi dokumen yang dilakukan pada tahun 2016. Ya betul, kurikulum 2013 yang sangat fenomenal menurut kami karena masih terdapat banyak kebingungan dalam menerapkan kurikulum yang satu ini bila kita membandingkan dengan kurikulum lainnya, yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sebelumnya kami ingin bertanya apakah benar anda sudah paham dengan jenis kurikulum ini? Bila tidak, kami akan sedikit memberi penjelasannya sebelum membahas karakteristik dari kurikulum 2013 ini. 

Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (outcomes-based curriculum) yang khusus pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari Standar Kompetensi LuLusan (SKL). Oleh sebab itu, maka penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum dipersepsikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. 



Sebenarnya telah ada hasil revisi kurikulum 2013 dan telah disosialisasikan menurut Kepala Puskusbuk ialah Bapak Tjipto Sumadi mengatakan bahwa tahun 2016 ini telah dilakukan revisi terhadap dokumen kurikulum 2013. Hasil revisi ini akan lebih memudahkan kerja guru, terutama dalam penilaian terhadap siswanya. Sebelumnya guru matematika harus menilai sikap spiritual dan sikap sosial semua siswa, sekarang tidak lagi. Namun untuk tugas itu akan dilakukan oleh guru Agama dan Budi Pekerti, serta guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara langsung. Akan tetapi, guru matematika tetap memiliki kewajiban untuk menumbuhkembangkan karakter anak didik, agar anak didik tidak tercerabut dari akar budaya bangsa.

Pada kurikulum 2013 yang telah direvisi ini, guru diberikan ruang kreatif untuk mengimplementasikan kurikulum ke dalam proses belajar mengajar. Selain itu budaya lokal dan kearifan lokal diberi ruang untuk dimasukkan dalam kurikulum. Jadi, peran guru sebagai ujung tombak yang mengimplementasikan kurikulum adalah menentukan atau sangat vital.

Rancangan Kompetensi Kurikulum 2013



Kompetensi untuk kurikulum 2013 dirancang sebagai berikut:
Pertama: Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.

Kedua: Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.

Ketiga: Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.

Keempat: Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
Kelima: Kompetensi Inti  menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.

Keenam: Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horisontal dan vertikal).

Ketujuh: Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK). Dalam silabus tercantum seluruh Kompetensi Dasar untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut.

Kedelapan: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap Kompetensi Dasar (KD) yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut. 

Demikianlah informasi yang diberikan ole situs EDUKASI kami, semoga bermanfaat buat anda semua dan mempunyai nilai tambah buat para tenaga pengajar dan peserta didik. Terima kasih telah berkunjung!

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

Monday, August 15, 2016

Hal Wajib diketahui Oleh Guru: Tata Kelola Kurikulum

Mengapa Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Wajib Tahu ?

Penguatan tata kelola kurikulum telah diatur dengan mengacu pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yakni pada pasal 38 ayat 1 mengatur bahwa “Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan pemerintah.” Selanjutnya pada pada pasal 38 ayat 2 mengatur bahwa “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.” 

evaluasi tata kelola kurikulum pendidikan

Di dalam Penjelasan Umum undang-undang yang sama dijelaskan bahwa “Pembaruan sistem pendidikan memerlukan strategi tertentu. Srategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. Kemusian dalam Pasal 35 yang terkait dengan kompetensi dijelaskan bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.”

Standar Isi Kriteria Kompetensi 

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan bahwa “Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.” 


Inilah Rasional Pengembangan Kurikulum 2013 Terbaru

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 dimulai dari penyusunan kerangka dasar kurikulum yang diturunkan dari tujuan pendidikan nasional dan berdasarkan landasan filosofis, yuridis, dan konseptual yang selanjutnya diturunkan ke dalam struktur kurikulum. 


Dari struktur kurikulum selanjutnya diturunkan menjadi standar isi yang memuat berbagai mata pelajaran dengan rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk masing-masing mata pelajaran. Selanjutnya disusun standar proses, standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian yang kemudian diturunkan ke dalam pedoman dan silabus. Kemudian silabus diturunkan menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran dan buku teks untuk seterusnya dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran dan penilaian. 


Perbedaan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 terletak pada peran guru pada bagian akhir kerangka kerja penyusunan kurikulum. Kalau di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, peran satuan pendidikan dan guru terbatas pada penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang diturunkan dari silabus yang sudah tersedia dan pemilihan buku teks siswa untuk selanjutnya melaksanakan proses pembelajaran dan penilaian. Sedangkan di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, peranan satuan pendidikan dan guru diperluas lebih lanjut sampai pada penyusunan silabus berdasarkan pedoman yang diberikan.

Peranan Satuan Pendidikan dan Guru Dalam Penyusunan Kurikulum

Peranan satuan pendidikan dan guru yang diperluas sampai penyusunan silabus ini berakibat pada pemilihan buku teks oleh satuan pendidikan dan guru yang sangat beragam. Dalam kenyataannya, satuan pendidikan dan guru memilih buku yang dihasilkan dari berbagai kurikulum, seperti Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, Kurikulum 2006, atau bahkan dari sumber yang tidak jelas rujukannya. 


Pemilihan buku teks yang beragam ini juga tentunya akan menghasilkan silabus yang sangat berbeda satu sama lain yang seterusnya diturunkan menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan proses pembelajaran dan penilaian. 


Oleh sebab itu, agar kompetensi lulusan dapat dicapai sesuai dengan yang telah ditetapkan, perlu ada perubahan yang signifikan. Pada Kurikulum 2013, penyusunan kurikulum dimulai dengan menetapkan standar kompetensi lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik, tujuan pendidikan nasional, dan kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. 


Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru. Perbandingan kerangka kerja penyusunan kurikulum dapat dilihat pada gambar berikut ini:

kerangka kerja penyusunan kurikulum

Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilakukan Balitbang pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa secara umum total waktu pembelajaran yang dialokasikan oleh banyak guru untuk beberapa mata pelajaran di SD, SMP, dan SMA lebih kecil dari total waktu pembelajaran yang dialokasikan menurut Standar Isi. Disamping itu, dikaitkan dengan kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan KTSP, ada kemungkinan waktu yang dialokasikan dalam Standar Isi tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. 

Pergeseran Pola Pikir Dalam Pendidikan

Hasil monitoring dan evaluasi ini juga menunjukkan bahwa banyak kompetensi yang perumusannya sulit dipahami guru, dan kalau diajarkan kepada siswa sulit dicapai oleh siswa.Rumusan kompetensi juga sulit dijabarkan ke dalam indikator dengan akibat sulit dijabarkan ke pembelajaran, sulit dijabarkan ke penilaian, sulit diajarkan karena terlalu kompleks, dan sulit diajarkan karena keterbatasan sarana, media, dan sumber belajar.

Untuk menjamin ketercapaian kompetensi sesuai dengan yang telah ditetapkan dan untuk memudahkan pemantauan dan supervisi pelaksanaan pengajaran, perlu diambil langkah penguatan tata kelola antara lain dengan menyiapkan pada tingkat pusat buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku pegangan siswa dan buku pegangan guru. 

Karena guru merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelaksanaan kurikulum, maka sangat penting untuk menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka manfaatkan. Untuk menjamin keterlaksanaan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran, juga perlu diperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah.

Terima Kasih Tetap Setia Berkunjung di Situs EDUKASI kami, semoga anda nyaman dan dapat membantu anda. Silahkan di share dengan rekan dan lainnya bila anda rasa dapat membantu mereka.

Romeltea Media
EDUKASIKU Updated at:

 
back to top